Menjadi “Kartini” di Masa Kini

April 21, 2011 by   - dibaca 759 kali
Leave a Comment

Peringatan kelahiran Raden Ajeng Kartini atau yang populer dengan RA. Kartini setiap 21 April, menjadi sebuah rutinitas yang cenderung kering nilai dan makna. Seremonial ini dilakukan sebatas upacara dengan menggunakan baju tradisional. Biasanya remaja putri dan ibu-ibu yang sibuk pada momen ini.

PERINGATAN Hari Kartini biasanya ramai di sekolah-sekolah mulai TK sampai SLTA. Tentu kita mengharapkan sesuatu yang positif dari kegiatan ini. Artinya, ada manfaat atau hikmah yang bisa diambil oleh anak-anak kita di sekolah dan masyarakat kita pada umumnya (terutama kaum perempuan) dari peringatan tersebut.

Seorang perempuan pada saat Kartini hidup hanya diposisikan pada kelas di bawah bayang-bayang laki-laki. Perempuan tidak 111/111 k. 111 untuk sekolah dan menuntut ilmu yang tinggi sebagaimana kaum laki-laki. Begitu pula kiprah di masyarakat, perempuan dianggap tidak mampu mengemban tugas sosial kemasyarakatan, seperti menjabat sebagai oa-rik (juru tulis), punggawa keraton (petugas keamanan), demang (jabatan politik di tingkat kecamatan), dan sejenisnya

Secara politis, kondisi ini sengaja diciptakan dan dibiarkan oleh pemerin-tah kolonial Belanda agar masyarakat tidak memiliki kemampuan dan wawasan luas sehingga mereka terus menerima kondisi terbelenggu oleh penjajah. Ungkapan-ungkapan keprihatinan Kartini terhadap lingkungannya tersebut disampaikan kepada sahabatnya yang orang Belanda dalam bentuk surat yang kemudian dikenal dengan buku berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Pertanyaannya adalah, pelajaran apa yang bisa diambil dari perjuangan Kartini (dan tokoh gerakan wanita lainnya) bagi generasi muda, terutama perempuan sekarang ini. Paling tidak ada tiga pelajaran yang dapat diteladani. Pertama, keberanian melawan hegemoni kekuasaan “istana”. Dibutuhkan keberanian dalam menjalani hidup ini. Sekarang ini, manusia dihadapkan pada berbagai pilihan hidup yang sangat kompleks yang membutuhkan keberanian untuk menghadapinya. Manusia tidak mungkin berhasil ketika tidak memiliki keberanianuntuk mengambil sikap. Takut merupakan musuh mereka yang memiliki cita-cita besar. Kartini berani melawan kekuatan “istana” dan kaum bangsawan demi memperjuangkan hak perempuan.

Kedua, upaya emansipasi wanita dengan laki-laki. Kartini menuntut .ulama kesetaraan gender. Emansipasi merupakan kondisi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala aspek kehidupan. Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang sama. Tidak ada perbedaan mendasar antara laki-laki dan perempuan di mata Tuhan. Hanya ketakwaan yang membedakannya.

Sekarang ini, di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang semakin pesat dan dinamika sosial yang sangat kompleks, masih sering kita mendengar adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan. Misalnya, ada perusahaan yang membedakan peran dan fasihtas yang diberikan kepada karyawannyahanya berdasarkan pertimbangan gender. Bukan karena pertimbangan kompetensi yang dimilikinya. Tentu hal ini seharusnya tidak perlu terjadi.

Ketiga, berani berkorban. Kerelaan untuk berkorban demi orang lain adalah sesuatu yang sangat mulia. Sekarang ini, sikap mementingkan kepentingan orang lain sudah menjadi hal yang langka. Egoisme semakin terasa dalam kehidupan perkotaan, di mana orang sangat sibuk dengan kesibukannya masing-masing sehingga cenderung tak acuh terhadap orang lain, sekalipun tetangga yang berada di sebelah rumahnya.

Ketiga hal itulah barangkali yang harus ditanamkan pada generasi muda kita dalam momentum peringatan Hari Kartini tahun ini. Selamat memperingati Hari Kartini, semoga kita bisa menjadi “Kartini-Kartini” di masa kini. ***

Sumber: bataviase.co.id

Komentar Anda?

  1. 11/08/2011 at 08:35

    ngopi photone boleh ga?…

  2. 21/04/2011 at 19:14

    Dapatkan berbagai bahan ajar bahasa inggris di http://englishinpowerpoint.blogspot.com. Semoga bermanfaat

  3. 21/04/2011 at 12:25

    hehehe… pak Mustoni

  4. 21/04/2011 at 12:24

    Selamat Hari IBU.. eh salah.. Hari Kartini 2011. semoga panjang umur

  5. 21/04/2011 at 12:19

    Selamat Hari Kartini ,,, photone ayu-ayu men sung

Komentar Anda?